Apakah Hiperseks Menyenangkan? Ini Pengakuan Penderitanya

0
69
views
apakah hiperseks menyenangkan

Setelah kemarin membahas mengenai kesehatan tubuh pada artikel Momok Diabetes Dan Solusi Alaminya. Sekarang kami akan menyajikan artikel dengan tema apakah hiperseks menyenangkan?

Pergaulan bebas yang sudah tidak dapat dikontrol menjadi salah satu penyebab hiperseks selain dari pengaruh hormon dari dalam tubuh. Apakah hiperseks menyenangkan? Mari kita menilik lebih lanjut berdasarkan pengakuan penderita.

A. Penyebab Awal

Wanita berusia 28 tahun mantan mahasiswi Yogyakarta mengaku pergaulan bebas yang ia lakukan bersama pacar-pacarnya selama kuliah menjerumuskannya dalam penyakit hiperseks.

Kebutuhan seksnya meledak-meledak dan harus berhubungan seksual minimal tiga kali sehari. Kurang dari itu, ia jadi gelisah dan melampiaskannya lewat aktivitas masturbasi.

B. Apakah Hiperseks Menyenangkan? Tidak!

Selama ini masarakat awan menganggap menjadi hiperseks itu menyenangkan. Baik itu menyenangkan bagi diri sendiri maupun pasangan. D menolak keras pernyataan tersebut dan menjelaskan banyak hal yang dia korbankan karena penyakitnya tersebut.

Hiperseks mengusik kehidupan kerja dan perkuliahannya. Pikirannya tak fokus dan hasrat seksual membuatnya gelisah. Libido yang meluap-luap membuatnya kerap kali bolos, demi bisa melampiaskannya sendiri maupun mengajak sang pacar.

D seringkali merasa sedih terhadap dirinya. Sedih juga karena tidak senormal dan sewajar orang lain. D mengaku pernah ketinggalan pesawat dan pertemuan khusus karena sibuk bercinta.

D juga merasakan malu yang amat sangat apabila kelainan seksualnya ini diketahui banyak orang. Karena itu lah dia tetap menyembunyikan penyakitnya kepada orang tua dan keluarganya. Dia hanya menceritakan hal ini kepada satu sahabat dekatnya saja.

C. Analisis Ahli Mengenai Hyperseks

bahaya mengucek mata

Salah satu ahli yang meneliti hyperseks adalah psikiater Jerman Kraft-Ebbing. Dia mendeskripsikan “hypersensuality” atau kondisi hiperseksualitas menjadi fenomena menarik untuk dikaji.

Selanjutnya penamaan hiperseksalitas berkembang yaitu nymphomania, erotomania, atau sekskoholisme. Semua istilah ini sebenarnya sama, yaitu sama-sama memandang kondisi ini sebagai kecanduan seks.

Randy Gilliland dari Departemen Psikologi Universitas Young Birmingham pada 2010 silam menerbitkan tesis yang tujuan utamanya untuk membuktikan dua efek terbesar dari hiperseksualitas yang sebenarnya telah dikenal lama yaitu malu dan rasa bersalah.

Keduanya rasa tersebut diakui muncul dalam diri sejumlah responden penelitian Gilliland. Pertanyaan apakah hiperseks menyenangkan ternyata terjawab.

Pengakuan responden membuktikan penderita hiperseksualitas juga ingin sembuh dan membangun hubungan yang lebih sehat bersama pasangan.

Penderita Hiperseksualitas sering dianggap remeh dan menjijikkan oleh orang awam. Namun sebenarnya, penderita ini juga sama seperti penderita kecanduan pada umumnya. Mereka perlu perhatian, bimbingan, arahan.

Karena itu, mari kita ubah cara pandang kita kepada penderita hyperseks. Mari sama-sama menggandengnya dan menuntun untuk menuju hidup sehat yang lebih baik.

(DUA)

Komentar

komentar

LEAVE A REPLY